Beginilah Perlakuan Penyiksaan Taruna ATKP Makassar Hingga Tewas Dikampusnya

IndonesianNewspaper.com, Makassar - Salah seorang taruna Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan atau ATKP Makassar, Aldama Putra (19 tahun) menjadi korban keganasan seniornya. Dia tewas setelah dianiaya seniornya, Muhammad Rusdi (21 tahun) di asramanya.

Dari hasil penyelidikan polisi, Aldama ternyata tewas karena dianiaya oleh seniornya sendiri. Korban dianiaya di dalam ruangan seniornya dengan disaksikan teman-teman seangkatannya.

"Dia meninggal karena dianiaya oleh senior-seniornya, kami sudah periksa sebanyak 22 saksi dan kami sudah tetapkan satu orang tersangka," kata Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Wahyu Dwi Ariwibowo, di Polrestabes Makassar, Selasa (5/2/2019).

Kapolrestabes Makassar, Kombes Wahyu Dwi Ariwibowo menjelaskan, pelaku ditangkap setelah menganiaya korbannya. Motifnya, kata Wahyu, karena korban ditegur tak menggunakan helm masuk dalam wilayah kampus, usai izin bermalam di luar kampus.

"Jadi, yang bersangkutan dipanggil ke kamar seniornya. Di situlah terjadi kasus penganiayaan yang mengakibatkan nyawa korban melayang," kata Wahyu di Mapolrestabes Makassar, Selasa (5/2/2018).

Dia menyebutkan, korban disuruh bersikap layaknya orang tobat. Kakinya dilebarkan, badan membungkuk dengan tumpuan kepala, sementara kedua tangan di belakang. Dadanya menjadi samsak pukulan tersangka tersebut.

Korban oleng gara-gara pukulan di perut dan dada itu. Pelaku dan rekan-rekan di dalam kamar itu sempat panik dan mengobatinya dengan minyak kayu putih. Mereka juga membawa korbannya ke poliklinik yang berlanjut ke RS Sayang Rakyat.

Sayangnya, nyawa putra semata wayang Pelda Daniel Pongkal tak tertolong lagi. "Untuk sementara kami tetapkan satu tersangka dulu. Tidak menutup kemungkinan tersangkanya akan bertambah," tegas polisi yang hobi memelihara ikan ini.

Sementara itu Daniel ayah korban menceritakan informasi dari temannya bahwa Aldama sering dipukul oleh senior-seniornya.

"Ada temannya jadi tempat curhat, katanya setiap hari ia dipukuli oleh senior-seniornya di dalam, saya heran kenapa anak saya ini tidak cerita sama saya," kata Pelda Daniel kepada awak media, saat ditemui di rumahnya.

Katanya, Aldama paling sering dipanggil senior-seniornya karena korban merupakan ketua tingkat dalam kelasnya. Bahkan saat teman sekelasnya melakukan kesalahan, korban yang menanggung akibatnya.

"Dalam satu hari dipanggil untuk dipukul lagi, bahkan kalau ada temannya didapat merokok atau belanja dia dipanggil dan dipukul. Jadi dia cerita kalau dalam satu hari tidak dapat pukulan syukur sekali mi katanya," paparnya.

Bahkan, Aldama pernah cerita kepada temannya bahwa dia pernah dikeroyok oleh teman-temannya. Parahnya, senior-seniornya yang ada saat kejadian hanya menonton.

Diketahui penganiayaan dicurigai orang tua korban setelah melihat kondisi jenazah korban di rumah sakit. Terdapat luka lebam di kepala, lengan, dada dan perut.

"Saya lihat langsung kondisi jasad anak saya itu. Makanya saya tidak percaya kalau anak saya jatuh dari WC karena luka lebamnya banyak sekali. Saya lalu melapor ke polisi dan akhirnya anak saya diautopsi, barulah terungkap," lanjutnya.

Dalam kasus ini, polsii menetapkan satu orang tersangka yakni Muh Rusdi (21 tahun) yang merupakan senior korban. Korban dianiaya hanya karena tidak mengenakan helm saat masuk ke dalam areal kampus pada Minggu (3/2/2018).

(tt)

Related Posts :

loading...

0 Response to "Beginilah Perlakuan Penyiksaan Taruna ATKP Makassar Hingga Tewas Dikampusnya"

Posting Komentar